Rumah Pena Foundation Gelar Diskusi Bijak Bermedia Sosial di Era AI, Diikuti Puluhan Jurnalis

November 15, 2019 Rumah Pena Foundation

JAKARTA – Rumah Pena Foundation (RPF) menggelar diskusi daring bertajuk “Bijak Bermedia Sosial di Era AI” melalui platform Zoom pada Sabtu (18/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 insan pers dan konten kreator dari berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Acara dibuka secara resmi oleh Pembina Rumah Pena Foundation, Mubinoto Amy, didampingi jajaran pengurus yayasan yang bergerak di bidang literasi, pendidikan, dan pelatihan jurnalistik.

Dalam sambutannya, Amy menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital, termasuk Artificial Intelligence (AI), menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan bagi insan pers maupun para konten kreator. Oleh karena itu, ia menilai kemampuan literasi digital menjadi bekal utama agar teknologi dapat dimanfaatkan secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.

“Insan pers dan para konten kreator harus memiliki literasi digital yang baik agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab,” kata Amy.

Pada sesi penyampaian materi, Amy memaparkan tujuh pokok pembahasan mengenai penggunaan media sosial di era kecerdasan buatan. Ia menjelaskan bahwa media sosial telah berkembang menjadi ruang publik yang memiliki pengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, bisnis, hingga pemerintahan.

Menurutnya, derasnya arus informasi di ruang digital menuntut setiap jurnalis dan konten kreator memiliki kemampuan untuk memilah informasi yang benar, melakukan verifikasi, serta menghindari penyebaran hoaks maupun disinformasi.

“Literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan internet atau telepon pintar, tetapi juga mencakup kemampuan mengakses, memahami, mengevaluasi, serta menggunakan informasi secara tepat,” katanya.

Amy juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam menggunakan media sosial. Ia menegaskan bahwa setiap unggahan yang dipublikasikan akan menjadi bagian dari jejak digital yang dapat memengaruhi reputasi seseorang pada masa mendatang.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa teknologi Artificial Intelligence memberikan banyak manfaat dalam mendukung berbagai aktivitas, seperti menyusun materi pembelajaran, membuat konten, hingga menganalisis data secara lebih cepat dan efisien.

Namun demikian, Amy mengingatkan bahwa AI juga berpotensi disalahgunakan untuk menghasilkan gambar, video, maupun informasi palsu yang terlihat meyakinkan. Karena itu, ia mengajak seluruh peserta agar selalu melakukan verifikasi fakta sebelum menyebarluaskan informasi kepada masyarakat.

Menurutnya, terciptanya ruang digital yang sehat membutuhkan partisipasi seluruh pengguna media sosial. Oleh sebab itu, ia mengimbau insan pers dan konten kreator agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya, menghargai karya orang lain, menghindari perundungan siber, serta menjadikan media sosial sebagai sarana berbagi pengetahuan dan membangun kolaborasi yang positif.

Melalui kegiatan tersebut, Rumah Pena Foundation berharap semakin banyak jurnalis dan konten kreator yang memiliki kecakapan digital, menjunjung tinggi etika bermedia, serta mampu memanfaatkan teknologi AI secara bertanggung jawab demi menghadirkan informasi yang akurat, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Sekretaris & Humas Rumah Pena Foundation: Tio