Rumah Pena Foundation Dorong Literasi Media dan Anti Hoaks Melalui Diklat Jurnalistik

Juni 6, 2025 Rumah Pena Foundation

BOGOR – Rumah Pena Foundation (RPF) terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang jurnalistik dan literasi digital. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pendidikan, Pelatihan, dan Bimbingan Teknis (Diklat-Bimtek) yang bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pokja Wali Kota Jakarta Pusat.

Kegiatan yang berlangsung di kawasan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 5 Juni 2025 itu menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang semakin cerdas dalam menyikapi derasnya arus informasi di era digital.

Melalui program tersebut, Rumah Pena Foundation menghadirkan ruang pembelajaran yang terbuka bagi pelajar, mahasiswa, jurnalis, hingga masyarakat umum yang ingin memperdalam pengetahuan mengenai dunia jurnalistik, literasi media, dan komunikasi digital.

Founder Rumah Pena Foundation, Mubinoto Amy, mengatakan lembaga yang dipimpinnya lahir dari keprihatinan terhadap masih rendahnya kemampuan masyarakat dalam memilah informasi yang benar di tengah maraknya penyebaran hoaks dan disinformasi.

“Rumah Pena Foundation lahir dari kegelisahan para aktivis pers, pegiat literasi, dan jurnalis yang melihat masih rendahnya kemampuan publik dalam memilah informasi. Masalah hoaks, polarisasi, hingga rendahnya kecakapan digital menjadi alasan utama lembaga ini bergerak melakukan edukasi secara berkelanjutan,” ujar Mubinoto Amy.

Menurutnya, perkembangan teknologi informasi menuntut masyarakat memiliki kemampuan berpikir kritis sekaligus memahami etika dalam memproduksi maupun mengonsumsi informasi.

Karena itu, Rumah Pena Foundation berkomitmen menghadirkan pelatihan jurnalistik yang relevan dengan perkembangan zaman, mulai dari teknik dasar penulisan berita hingga kemampuan menghasilkan konten digital yang profesional.

“Rumah Pena Foundation hadir untuk membentuk SDM yang kritis, berintegritas, dan mampu menghasilkan karya jurnalistik yang bertanggung jawab. Media harus kembali menjadi ruang klarifikasi, bukan arena memperkeruh informasi,” ujarnya.

Amy berharap para peserta yang mengikuti program pendidikan di Rumah Pena Foundation memiliki kompetensi yang dapat diterapkan di berbagai bidang industri komunikasi modern, seperti jurnalisme, content writing, fotografi, hingga public relations.

Selain menyelenggarakan pelatihan teknis, Rumah Pena Foundation juga aktif mengembangkan program literasi media dan gerakan anti hoaks. Berbagai seminar, workshop, serta diskusi tematik secara rutin digelar untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali misinformasi sekaligus memahami etika bermedia sosial.

Lebih lanjut, Amy mengatakan Rumah Pena Foundation akan terus memperluas jaringan kerja sama dengan sekolah, perguruan tinggi, komunitas, organisasi profesi, serta media nasional agar gerakan literasi yang dibangun dapat memberikan manfaat lebih luas.

“Kami ingin ekosistem media Indonesia semakin sehat. Melalui program pendidikan, riset, dan inkubasi penulis muda, RPF berupaya memberikan kontribusi nyata bagi kualitas jurnalisme di Indonesia,” ujarnya.

Dengan visi menjadi pusat pendidikan jurnalistik yang kredibel dan berdaya saing, Rumah Pena Foundation menargetkan diri sebagai mitra strategis bagi lembaga pendidikan, komunitas, maupun organisasi yang ingin memperkuat budaya literasi di tengah tantangan perkembangan informasi digital yang semakin kompleks.

Humas Rumah Pena Foundation: Tio